AL-DAKHIL AT-TAFSIR

AD-DAKHIL FI AT-TAFSIR
(ISRAILIYAT & NASHRANIYYAT)
 Materi oleh Ajeng Arum Masfufah
 
    Kata ad-Dakhîl dalam al-Mufradât fi Gharîb al-Qur’ân  adalah suatu aib, cacat internal. Selanjutnya disebut dengan infiltrasi (penyusupan, peresapan). Apabila kata ini digabungkan dengan kata “tafsir”, menurut Fayed yang dikutip oleh Ulinnuha (Metode Kritik ad-Dakhîl fit-Tafsîr, 2019, 52), adalah penafsiran al-Qur’an yang tidak didasari pada validitas sumber seperti al-Qur’an, hadis sahih, pendapat sahabat dan tabi’in serta akal sehat yang memenuhi prasyarat dan kriteria ijtihad.

    Dalam beberapa penafsiran, terdapat banyak kejanggalan yang kurang diperhatikan oleh umat Muslim saat ini. Kejanggalan-kejanggalan itu menyebabkan terjadinya susupan dalam tafsir tersebut. Salah satu susupan itu dijelaskan dalam disiplin ilmu Ad-Dakhil fit-Tafsir yang mana di dalamnya terdapat pembahasan tentang Isra’iliyyat & Nasraniyyat. 

a. Isra'iliyyat secara bahasa tersusun dari kata isra (hamba) dan il (Allah) yang berarti hamba Allah. Kata tersebut berasal dari bahasa Ibrani. Yang dimaksud dengan hamba Allah di sini adalah kaum nabi Ya’kub ibn Ishaq ibn Ibrahim yang dikenal dengan sebutan bani ‘israil. 

b. Nasraniyyat dalam penggunaan kontemporer di dunia Arab, "Nasraniyyat" dapat mengacu pada konsep-konsep yang berkaitan dengan kekristenan, ajaran Kristen, atau bahkan komunitas Kristen secara keseluruhan. Misalnya, dalam konteks sejarah dan teologi, kata ini bisa digunakan untuk membahas tradisi dan keyakinan Kristen dari sudut pandang Islam.

tokoh- tokoh Isra'iliyyat dan Nasraniyyat 

1. Abdullah bin Salam

2. Ka’ab al-Akhbari

3. Wahab ibnu Munabbih

4. Ibnu Juraij

5.Tamim al-Dari

6. Salman al- farisi

 

Pandangan Ulama tentang Isra'iliyyat adalah sebagai berikut.

Ibnu Katsir membagi israiliyyat kepada tiga macam:

    Cerita-cerita yang sesuai kebenarannya dengan Al-Qur’an, berarti cerita itu benar. Dalam hal ini cukuplah Al-Qur’an yang menjadi pegangan. Kalaupun diambil cerita tersebut hanyalah sebagai bukti adanya saja, bukan untuk dijadikan pegangan atau hujjah.
    Cerita yang terang-terangan dusta, karna menyalahi ajaran kita (Islam). Cerita serupa ini harus ditinggalkan, karna menurutnya merusak akidah kaum muslimin.
    Cerita yang didiamkan (maskut ‘anhu), yaitu cerita yang tidak ada keterangan kebenarannya dalam Al-Qur’an, akan tetapi juga tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Cerita seperti ini tidak boleh dipercaya dan tidak boleh pula kita (Umat Islam) mendustakannya. Misal nama-nama Ashhabul Kahfi dan jumlahnya.

 

 

Komentar

Postingan Populer