SEJARAH TAFSIR AL-QUR'AN 2

    SEJARAH TAFSIR al-QUR'AN 2

                                                                                    Materi by Muhammad Juliansyah

  Setelah pembahasan tafsir Qur'an 1, kita berlanjut ke pembahasan sejarah tafsir Qur'an 2, yang dimana pada masa ini terbagi menjadi 2 , yaitu masa pembukuan tafsir & masa komtemporer

1. Masa Pembukuan Tafsir

    Generasi Tabi'i al-Tabi'in (generasi ketiga kaum muslimin), meneruskan ilmu yang mereka terima dari para tabi'in, mereka mengumpulkan pendapat dari para ulama terdahulu, yaitu Sufyan bin Uyainah

    Tafsir-tafsir yang muncul pada masa formatif-klasik ini masih sangat kental dengan nalar bayani dan bersifat deduktif, dimana teks al-Qur’an menjadi penafsiran dasar dan bahasa menjadi perangkat analisisnya. Itulah sebabnya menurut Nashr Hamid Abu Zaid sering menyebut bahwa peradaban Arab identik dengan peradaban teks.

    Dari pembukuan kitab hadis ini ada serangkaian hadis yang bersifat tafsir. Ketika Nabi Muhammad menjelaskan ayat quran, ada hadis-hadis Nabi yang bersifat tafsir. Di masa awal pembukuan, tafsir masih menumpang pembukuannya pada hadis lalu kemudian dibukukan secara khusus dan independen. Menjadi tafsir secara utuh. Kitab tafsir pertama yang dikarang adalah tafsir jamiul bayan atau sering disebut tafsir at-Thabari.

    Masa pembukuan dimulai pada akhir dinasti Bani Umayah dan awal dinasti Abbasiyah. Dalam hal ini hadits mendapat prioritas utama pembukuannya meliputi berbagai bab, sedang tafsir hanya merupakan salah satu dari sekian banyak bab yang dicakupnya. Pada masa ini belum dipisahkan secara khusus yang hanya memuat tafsir surat demi surat daan ayat demi ayat dari awal al-Qur’an sampai akhir.

    Perhatian ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbahkan pada Nabi Muhammad, sahabat, dan tabi’in sangat besar. Generasi berikutnya menulis tafsir secara khusus dan independent, menjadikannya ilmu yang berdiri sendiri. Tafsir di masa ini memuat riwayat yang disandarkan kepada tokoh-tokoh tersebut.

2. Masa Kontemporer

    Masa ini dimulai pada akhir abad ke-19 sampai sekarang dan akan terus berlanjut. Penganut agama Islam setelah sekian lama ditindas dan dijajah oleh bangsa Barat telah mulai bangkit kembali. Umat Islam telah merasakan agama mereka dihinakan dan menjadi alat permainan serta kebudayaan mereka telah dirusak dan dinodai.

       Bersamaan dengan upaya pembaruan Islam dan gerakan penafsiran Al-Qur'an di Mesir dan negara-negara lainnya, para ilmuan muslim di Indonesia juga melakukan gerakan penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an ke dalam bahasa Indonesia.Diantaranya yang tergolong ke dalam tafsir yang berkualitas dan monumental adalah Al-Qur'an dan tafsirnya yang diterbitkan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia dan tafsir al-Azhar karya Prof. Dr. Buya HAMKA (1908-1981).
 
                                                                                                         

Komentar

Postingan Populer